Label

Tampilkan postingan dengan label artikel mingguan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel mingguan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2012

DON'T JUDGE THE BOOK BY ITS COVER :)

Susan Boyle - Britains Got Talent 2009
ini video yang dibilang Bu Elsa Sari
silahkan ditonton :)
DON'T JUDGE THE BOOK BY ITS COVER :)



Posted by : Selly Wijayanti
Session : Artikel Mingguan (video for this time)
Source : Youtube account

GAJAH DAN 7 ORANG BUTA

 Ini adalah cerita tentang orang yang sering berbeda pendapat :)


Dahulu kala, terdapatlah seorang raja yang mengalami kerepotan dengan para menterinya. Mereka terlalu banyak berbantah sehingga nyaris tak satupun keputusan dapat diambil. Para menteri itu mengikuti tradisi politik kuno, masing-masing menyatakan bahwa dirinyalah yang paling benar dan yang lainnya salah. Meskipun demikian, ketika sang raja yang penuh kuasa menggelar perayaan festival umum, mereka semua bisa sepakat untuk cuti bersama.

Festival yang luar bisa itu digelar di sebuah stadion besar. Ada nyanyian dan tarian, akrobat, badut, musik dan banyak lagi. Dan di puncak acara, di kerumunan banyak orang, dengan para menteri yang tentunya menempati tempat duduk terbaik, sang raja menuntun sendiri gajah ke tengah arena. Di belakang gajah itu berjalanlah tujuh orang buta yang telah diketahui oleh umum sebagai orang-orang yang buta sejak lahir.

Sang raja meraih tangan orang buta pertama, menuntunnya untuk meraba belalai gajah itu dan memberitahunya bahwa itulah gajah. Raja lalu membantu orang buta kedua untuk meraba gading sang gajah, orang buta ketiga meraba kupingnya, yang keempat meraba kepalanya, yang kelima meraba badannya, yang keenam meraba kaki, dan yang ketujuh meraba ekornya, lalu menyatakan kepada masing-masing orang buta bahwa itulah yang dinamakan gajah.

Lalu raja kembali kepada si buta pertama dan memintanya untuk menyebutkan dengan lantang seperti apakah gajah itu.

"menurut pertimbangan dan pendapat saya yang ahli ini," kata si buta pertama, yang meraba belalai gajah, "saya nyatakan dengan keyakinan penuh bahwa 'seekor gajah' adalah sejenis ular, marga python asiaticus."

"Sungguh omong kosong," seru si buta kedua yang meraba gading gajah. "Seekor 'gajah' terlalu keras untuk dianggap sebagai seeokr ular. Fakta sebenarnya, dan daya tak pernah salah, gajah itu seperti bajak petani."

"Jangan melucu," cemooh si buta ketiga yang meraba kuping gajah. "Seekor 'gajah'adalah seperti daun kipas yang besar."

"Kalian idiot tak berguna!" tawa si buta keempat yang meraba kepala gajah. "Seekor 'gajah'sudah pasti adalah sebuah gentong air yang besar."

"Mustahil! Benar-benar mustahil!," cibir si buta kelima yang meraba badan gajah. "Seekor 'gajah'adalah sebuah batu karang besar."

"Dasar orang-orang picik!" seringai si buta terakhir yang meraba ekor gajah. "Aku akan memberitahu kalian apa sebenarnya 'gajah' itu. Seekor gajah adalah semacam pecut pengusir lalat. Aku tahu, aku dapat merasakannya."

"Sampah! Gajah itu seekor ular.". "Tidak bisa! Itu gentong air!". "Bukan! Gajah itu…" Dan para buta itu pun mulai berbantah dengan sengitnya, semuanya bicara berbarengan, menyebabkan kata-kata melebur menjadi teriakan-teriakan yang lantang dan panjang. Tatkala kata-kata penghinaan mulai mengudara, lantas datanglah jotosan. Para buta itu tidak yakin betul siapa yang mereka jotos, tetapi tampaknya itu tidak terlalu penting dalam tawuran semacam itu. Mereka sedang berjuang demi prinsip, demi integritas, demi kebenaran. Kebenaran masing-masing pada kenyataannya.

Saat prajurit raja melerai tawuran membuta diantara orang-orang buta itu, kerumunan hadirin di stadion terpaku diam dan wajah para menteri tampak malu. Setiap orang yang hadir menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh raja melalui pelajaran itu.

Bayangkanlah seperti apa jadinya jika ketujuh orang buta itu, alih-alih mempertentangkan data-data mereka, malah menggabungkan pengalaman. Mereka akan menarik suatu kesimpulan bahwa 'seekor gajah' adalah sesuatu yang seperti batu karang besar, yang ditopang oleh empat batang pohon. Di bagian belakang batu karang itu ada seutas pecut pengusir lalat, dan di depannya ada gentong air besar. Di setiap sisi gentong air itu terdapat dua daun kipas, dengan dua bajak yang mengapit seekor piton panjang! Bukan gambaran yang buruk-buruk amat akan seekor gajah, bagi orang yang tak akan pernah melihatnya.
Masing-masing dari kita hanya mengetahui sebagian saja dari kebenaran. Bila kita memegang teguh pengetahuan kita yang terbatas itu sebagai kebenaran mutlak, kita tak ubahnya seperti salah satu dari orang buta yang meraba satu bagian dari seekor gajah dan menyimpulkan bahwa pengalaman parsial mereka itu sebagai sebuah kebenaran, dan yang lainnya salah. Jadi, jangan menganggap bahwa diri kita 100% dan oranglain 100% salah. Belajarlah untuk tetap menghargai sudut pandang oranglain.



Posted by : Selly Wijayanti
Session : Artikel Mingguan
Source : artikel kaskus Young On Top

Senin, 21 Mei 2012

TIPS AGAR TIDAK TELAT KE KAMPUS

Siapa di antara kamu sering telat datang ke kampus? Wah semua mahasiswa mungkin sering mengalami hal tersebut. Pasalnya, ada saja yang membuat kamu terlambat datang kuliah, alasan paling sering ditemui sih kebayakan gara-gara kesiangan.

Sebenarnya ketika kamu telat datang kuliah, kamu bakal rugi loh, sebab kamu bisa ketinggalan materi kuliah. Kalau kamu enggak punya ide bagaimana supaya kamu enggak telat ke kampus :

1. Mandi sebelum tidur.
Siapa yang bilang mandi sebelum tidur akan menyebabkan reumatik? Ternyata belum ada bukti kuatnya loh. Mandi sebelum tidur akan membuatmu lebih segar, relaks, dan bersih sebelum kamu beristirahat. Kalau kamu sedang fit, enggak ada salahnya kok mandi pakai air dingin, namun, jika sedang enggak enak badan, usahakan pakai air hangat ya.

2. Siapkan tas sejak malam.
Ini mungkin salah satu faktor yang bikin kamu suka telat. Makanya, siapkan tas mu dari malam sebelum tidur, pastikan keperluanmu untuk berok sudah rapi dan tidak tertinggal.

3. Siapkan baju yang mau dikenakan.

Pakaian yang paling bisa diandalkan ketika mepet adalah jaket. Jadi, pastikan kamu menyiapkan jaket untuk dikenakan besok sebelum tidur. kalaupun kamu kesiangan dan darurat enggak sempat pilah pilih baju, pakai aja kaus oblong dan tutupi dengan jaket.

4. Cetak tugas-tugas dari malam.
Kalau poin ini sih tergantung kamu ya, kalau kamu mengerjakan tugas sehari sebelum tenggat waktu dan mencetaknya sejak sore, kamu pasti enggak bakal telat ke kampus.

5. Kekuatan Deodoran dan sisir.

Enggak sempat mandi? Segera cuci mukamu dan sikat gigi. Pastikan kamu membasuh ketiakmu, dan balur dengan deodoran. Sisir rambutmu, bagi mahasiswi ingat untuk menguncir rambut yang mungikin belum sempat diseterika supaya lurus, dan siapkan pamungkas untuk kamuflase pagi hari: parfum.

6. Sarapan kilat.

Apa yang mengenyangkan tapi enggak makan waktu lama untuk jalan ke kampus? Betul, minum susu. Ternyata susu juga memiliki efek mengenyangkan, jadi lumayan untuk ganjal perut sebelum kelas usai. Bagi yang enggak suka susu sapi, bisa ganti dengan susu kedelai, atau jus buah, tapi paling gampang sebenarnya sih buah Apel. 

YEAH MAHASISWA ! ENJOY :)



Posted by : Selly Wijayanti
Session : Artikel Mingguan
Source : fakta7.blogspot.com

keluarga pemburu dan peternak domba


Alkisah, pada zaman dahulu di sebuah desa, hiduplah keluarga pemburu dan peternak yang bertetangga. Untuk membantu saat berburu, si pemburu memiliki anjing-anjing peliharaan yang galak namun kurang terlatih. Celakanya, saat di rumah, anjing-anjing itu sering melompati pagar dan melukai domba-domba si peternak.

Walaupun sudah diperingatkan untuk menjaga anjing-anjingnya, si pemburu tidak mau peduli. Hingga suatu hari, kembali salah satu domba diserang dan terluka cukup parah.

Habislah kesabaran si peternak! Setelah berpikir lama, ia memutuskan pergi ke kota untuk menemui seorang hakim yang bijaksana. Setelah sang hakim mendengarkan cerita si peternak itu, dia berkata bijak, "Peternak yang baik, saya sebagai hakim, terhadap aduanmu, bisa saja menghukum si pemburu untuk mengganti kerugianmu dan memerintahkan dia untuk merantai atau mengurung anjing-anjingnya. Tetapi, bila itu saya lakukan, kamu akan kehilangan seorang teman. Mana yang lebih kamu inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?"

"Pak Hakim, jujur saja, walapun saya merasa dirugikan secara materi, tetapi saya tidak ingin punya musuh, apalagi tetangga yang telah menjadi kawan saya sedari kecil," kata si peternak dengan suara murung.

"Jawaban yang baik dan bijak! Jika kamu ingin domba-dombamu aman tetapi tetanggamumenjadi teman yang baik, saya berikan sebuah saran…silakan kamu jalankan." Setelah mendengar saran sang hakim, si peternak langsung setuju.

Sesampainya di rumah, peternak itu segera menuju ke kandang dan memilih sepasang anak domba yang sehat, kemudian menghadiahkannya kepada anak-anak tetangganya. Keluarga si pemburu menerima hadiah itu dengan penuh sukacita. Tak lama, anak-anak pun asyik bermain dengan domba-domba kecil yang lucu dan keesokan harinya mulai berkunjung ke rumah si peternak untuk belajar merawat domba-domba tersebut.

Melihat kebahagiaan anak-anaknya, tanpa diminta, si pemburu dengan sukarela mengurung anjing-anjingnya agar tidak mengganggu domba-domba kecil kesayangan anak-anaknya. Dan sejak saat itu pula, domba-domba si peternak pun menjadi aman. Untuk membalas kebaikan si peternak, si pemburu selalu membagi hasil buruannya ke si peternak. Si peternak membalasnya dengan mengirimkan susu dan keju dari hasil dari peternakannya.

Akhirnya…singkat cerita, si pemburu dan si peternak pun kembali bertetangga dengan bahagia.

Cara terbaik untuk "mengalahkan" dan mempengaruhi orang adalah dengan kebajikan dan belas kasih. Seperti dicontohkan pada cerita di atas, saat keburukan dan sifat ego dibalas dengan kebaikan, ternyata hasilnya membawa manfaat dan kebahagiaan bersama.

Demikian pula di kehidupan ini, saat ego dikalahkan maka kemenangan akan memihak kepada kita. Saat perbuatan baik kita lakukan, sesungguhnya kita sedang melindungi diri sendiri dari kemalangan yang mungkin sedang mengintai.



Posted by : Selly Wijayanti
Session : Artikel  Mingguan 4
Source : Artikel Young On TOP kaskus

Jumat, 20 April 2012

Tingkat potensi kreatifitas


Setiap manusia dengan mahluk lainnya memiliki perbedaan , salah satunya adalah potensi kreatif yang ada pada dirinya . Setiap manusia memiliki bakat dan ide-ide kreatif pada dirinya. Namun, terkadang kita belum menemukan apa potensi yang kita miliki. Potensi kreatif  adalah sebuah sumber daya yang dimiliki manusia dengan memanfaatkan sebesar-besarnya kekuatan akal dan fitrahnya untuk menciptakan banyak karya di kehidupannya.


Potensi kreatif yang kita miliki :
  1. linguistik/verbal: kemampuan untuk mengolah kata dalam bentuk tulisan ataupun ujaran. 
  2. Logika/matematika: kemampuan untuk mengolah sistem angka dan konsep-konsep logika. 
  3. Ruang/tempat: kemampuan untuk mengamati dan mengolah pola-pola dan 
  4. desain Musik: kemampuan untuk memahami dan mengolah konsep-konsep musik seperti nada, ritme, dan harmoni. 
  5. Gerakan tubuh: kemampuan untuk menggunakan tubuh dan gerakan, seperti dalam olah raga dan tarian. 
  6. Intrapersonal: kemampuan untuk memahami perasaannya sendiri dan dan menjadi seorang yang reflektif dan filosofis. 
  7. Interpersonal: kemampuan untuk memahami perasaan orang lain dan pikiran serta perasaan mereka. 
  8. Sikap mental yang dibutuhkan untuk mengembangkan kreativitas: Keingintahuan seperti seeorang anak kecil. Keterbukaan terhadap ide-ide baru. Kreativitas juga membutuhkan kesediaan mengambil resiko. Tenaga atau semangat. 
Selain itu Anda bisa menggunakan  tahap berikut untuk mengembangkan daya kreatif: 
  1. Persiapan: mengumpulkan ide-ide, informasi, data, opini, dan fakta-fakta. 
  2. Inkubasi: menyimpan semua informasi dan secara sadar memfokuskan pikiran pada informasi tersebut. 
  3. Iluminasi: saat di mana ide baru melintas begitu saja dari pikiran bawah sadar menuju pikiran sadar. 
Ada 3 tipe tingkatan potensi kreativitas pada masing-masing orang, yaitu :

1. High Creative Potency
ciri-cirinya : 
  • Tidak terpaku pada ide umum
  • Mau mencoba dalam ketidakpastiaan
  • Tidak bergantung dengan orang lain
  • Tidak mudah beralih perhatian dari hal yang ditekuni
2. Middle Creative Potency
ciri-cirinya :
  • Mau menghargai ide baru
  • Menganggap bahwa kreatif itu harus realistis
  • Tidak sabar dalam bertindak
  •  Mudah kehilangan konsistensi
3. Low Creative Potency
ciri-cirinya :
  • Lebih tertarik pada hal yang umum
  • Terlalu realistis
  • Tidak memberi ruang pada ide baru
  • Selalu bekerja dengan orang lain
  • Senang berbagi
  • Hanya melakukan yang hasilnya cepat dan pasti didapat.


Posted by : Selly Wijayanti
Session : Artikel Mingguan 3

Minggu, 25 Maret 2012

Managemen Waktu

Managemen Waktu sebagai awal keberhasilan

Pada dasarnya setiap orang memiliki modal waktu yang sama, 24 jam dalam sehari. Tapi mengapa ada sebagian orang yang dengan aktifitasnya mengaku “sibuk”, padahal jadwal kegiatannya “tak sesibuk” orang lain yang jauh lebih padat dan powerfull. Dalam rentang waktu yang sama, bisa jadi 2 orang yang berbeda menghasilkan output yang berbeda, baik jumlah maupun kualitasnya. Mengapa?
Kondisi itulah yang menunjukan bahwa adanya manajemen waktu sangatlah penting dalam pencapaian sebuah keberhasilan. Sebab dengan manajemen waktu yang baik, seluruh kegiatan dapat terjadwal rapi dan semuanya terselesaikan. Langkah apa sajakah yang perlu dilakukan dalam mengatur waktu yang baik dan efektif? Mari kita bahas bersama tips-tips manajemen waktu yang bisa Anda terapkan setiap harinya.

1. Mulailah dengan membuat skala prioritas.
Ketika tugas atau pekerjaan kita menumpuk, waktu 24 jam per hari rasanya tidak cukup untuk menyelesaikan semua tugas tersebut. Untuk itu buatlah skala prioritas pekerjaan manakah yang paling penting dan harus segera diselesaikan, serta pekerjaan manakah yang bisa dikerjakan belakangan. Dengan begitu semua target Anda dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

2. Belajar disiplin dan tidak menunda pekerjaan.
Membiasakan diri untuk disiplin dalam mengerjakan semua pekerjaan, mendorong kita untuk segera menyelesaikannya langsung tanpa harus menunda-nunda. Sebab semakin lama kita menunda sebuah pekerjaan, maka semakin besar pula rasa malas yang kita bangun. Hal inilah yang membuat pekerjaan kita hanya akan menumpuk, tanpa ada yang terselesaikan dengan tuntas. Karena itu membangun disiplin diri menjadi langkah awal bagi Anda untuk bisa sukses menjalankan manajemen waktu yang sudah direncanakan.

3. Buatlah jadwal sebagai alat bantu manajemen waktu.
Salah satu alat bantu yang dapat mengingatkan Anda dengan segala pekerjaan yang harus diselesaikan yaitu jadwal kegiatan Anda. Usahakan Anda memiliki jadwal rencana kegiatan harian, dan pastikan Anda mencantumkan pekerjaan apa saja yang harus Anda selesaikan pada hari itu. Jadi, Anda mengingat setiap pekerjaan yang harus segera diselesaikan dan dapat mengatur waktunya dengan baik.

4. Upayakan selalu fokus dan tuntaskan setiap pekerjaan Anda.
Mengerjakan lebih dari satu tugas dalam waktu yang bersamaan tentunya tidak akan menghasilkan output yang optimal.  Lebih baik kita fokus untuk menuntaskan satu tugas terlebih dahulu, baru selanjutnya kita mengerjakan tugas berikutnya. Cara ini sangat membantu Anda untuk bekerja secara efektif, sehingga semua tujuan Anda dapat tercapai sesuai dengan target waktunya.

5. Hargailah setiap waktu yang Anda habiskan.
Manfaatkan setiap waktu yang Anda habiskan sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya saja saat jam kerja, maka gunakan tenaga dan pikiran Anda untuk fokus menyelesaikan pekerjaan dan tugas Anda. Begitu juga pada saat jam istirahat, hargai serta manfaatkanlah untuk refresing dan sejenak mengistirahatkan pikiran Anda. Sehingga pada saat masuk jam kerja, pikiran dan tenaga Anda siap digunakan untuk bekerja kembali secara optimal. Dengan menghargai waktu yang Anda miliki sesuai dengan porsinya, maka setiap jam yang Anda lewati akan memberikan manfaat bagi Anda.

Pastikan tidak ada waktu Anda yang terbuang sia-sia, karena manajemen waktu merupakan awal sebuah keberhasilan Anda. Semoga informasi managemen waktu untuk pekan ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, selamat berkarya dan salam sukses :)


Posted by : Selly Wijayanti
Session : Artikel Mingguan 2
At : Minggu, 25 Maret 2012 13:20 WIB

Selasa, 20 Maret 2012

value kepemimpinan


Tak dapat dipungkiri bahwa banyak perusahaan yang berusaha untuk mempertahankan pemimpin besarnya karena ketakutan akan kosongnya posisi kepemimpinan yang dianggap ideal. Padahal pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu meninggalkan warisan penting, bukan dalam bentuk kondisi perusahaan yang sukses besar, nilai saham meroket, strategi ampuh, atau hal lain yang sifatnya sementara, namun warisan seorang pemimpin yang sesungguhnya adalah values yang dihayati dan menjadi pedoman bagi penerusnya dalam melanjutkan dan mensukseskan organisasi. Banyak yang terjadi selama ini justru pemimpin banyak meninggalkan personal value terkait dengan gaya kepemimpinan yang diterapkan di perusahaan tersebut, sehingga akan musnah seiring dengan musnahnya/ hilangnya pimpinan tersebut.
Value (nilai dasar) sebagai bagian dari budaya perusahaan yang dipegang teguh dan diyakini oleh semua karyawan kemudian teraplikasi dalam perilaku mereka dan akan menjadi tulang punggung keberlangsungan perusahaan. Perusahaan memang membutuhkan strategi, kepemimpinan yang tangguh, sistem yang rapi, serta orang yang terampil menjalankan bisnis, namun kesemuanya itu harus direkatkan dalam bingkai yang sama berupa landasan nilai budaya yang sama. Hal ini akan menjadi alat yang ampuh dalam memenangkan hati karyawan sebagai motor jalannya operasional perusahaan.
BUILDING CULTURE 
Budaya perusahaan sesungguhnya mencakup dua elemen dasar yaitu nilai-nilai (shared values) dan perilaku (common behaviour). Shared values adalah nilai yang diyakini bersama dan sebagai pedoman utama bagi setiap karyawan, cenderung tidak nampak  dan hanya bisa dirasakan oleh orang-orang dalam yang menjadi pondasi dari budaya perusahaan. Common behaviour adalah panduan praktis karyawan dalam mengimplementasikan nilai yang diyakini sekaligus mencakup sanksi bagi yang melanggar maupun reward bagi yang melakukannya. Berbeda dengan value, hal ini sangat terlihat khususnya oleh pelanggan. Jika diibaratkan gunung es, shared value adalah bagian dasar gunung yang tertutup air laut, sedangkan common behaviour adalah puncak gunung yang tampak di permukaan air laut. Nilai budaya perusahaan memerlukan rumusan yang sederhana agar mudah dicerna, sehingga bukan hanya menjadi kata-kata yang indah tanpa makna, mudah dihapal dan dipahami oleh seluruh karyawan. Tidak hanya itu, nilai budaya perusahaan juga harus memberikan direction dan motivation, bagaimana hal yang benar dan salah, yang harus dilakukan atau tidak, yang harus didorong dan diprioritaskan dan mana yang tidak, serta harus menjadi energi yang tidak pernah berhenti memotivasi karyawan dalam menjalankan aktivitasnya.
LEADERS AS “VALUE BUILDER” 
Seluruh pimpinan adalah value builder. Ketika nilai budaya itu belum ada, maka tugas pemimpin adalah membangunnya, selanjutnya menanamkan nilai-nilai tersebut kepada seluruh karyawan, dan menegakkan nilai tersebut agar terus hidup, lestari, dan berkembang seiring dengan berkembangnya perusahaan. Pemimpin telah mentuntaskan tugasnya saat ia mampu mentransformasikan penerusnya menjadi pemimpin-pemimpin baru yang memiliki nilai luhur (values) yang ditanamkan oleh pimpinan, bukan personal value namun lebih kepada corporate values yang selalu hidup bersama perusahaan bahkan sampai dengan seratus tahun kedepan. Corporate value yang mengakar kuat akan mempengaruhi setiap karyawan baru, melalui interaksinya dalam aktivitas sehari-hari, karyawan akan mengalami transformasi diri perlahan, sehingga tanpa kehadirannya, pemimpin telah mentransformasikan karyawan tersebut agar memiliki nilai yang ada dalam corporate values.
BUILDING STRONG CULTURE 
Corporate culture yang “bagus” bagi suatu perusahaan belum tentu “bagus” pula di perusahaan lain. Budaya perusahaan harus mampu menjawab tantangan bisnis internal dan eksternal perusahaan, dan karena setiap perusahaan memiliki tantangan yang berbeda, maka masing-masing harus bisa merumuskan budaya yang paling sesuai dengan perusahaannya. Tantangan eksternal bisa merupakan tantangan makro yang dihadapi (teknologi, ekonomi, politik, sosial, budaya, market), kompetisi, dan perubahan perilaku konsumen. Sedangkan faktor internal terkait dengan visi misi perusahaan dan strategi bisnis umum perusahaan. Hal ini yang menyebabkan bahwa perumusan nilai perusahaan mengacu pada konteks bisnis yang melingkupi perusahaan. Yang terpenting adalah budaya perusahaan harus benar-benar diimplementasikasn secara konsisten, tidak sekedar dirumuskan sebagai pemanis, namun dapat dipegang teguh sebagai acuan perilaku karyawan, dan terinternalisasi secara kuat dalam perusahaan. Sehingga tugas besar perusahaan adalah bukan sekedar merumuskan “good culture” namun juga menjadikannya sebagai “strong culture”.
Nilai budaya bukan hanya berupa konsep namun juga terwujud dalam keseharian perusahaan. Benar adanya istilah“Customer is king”, kita harus bisa memahami karakteristik konsumen, namun sebelumnya dan juga penting adalah bagaimana kita mampu menggarap orang-orang yang ada, sebagai asset penting dan ampuh dalam menjawab tantangan global saat ini, yang pengelolaannya harus direkatkan dalam bingkai yang sama berupa landasan nilai budaya yang sama. Dalam hal ini peran pemimpin sangatlah besar dalam menanamkan nilai budaya bagi perusahaannya, menjadikan value tersebut mampu dihayati dan menjadi pedoman bagi penerusnya dalam melanjutkan dan mensukseskan organisasi. Warisan luhur ini akan selalu hidup bersama perusahaan bahkan sampai dengan seratus tahun kedepan.
 Leaders must be able to make the values alive”. Pemimpin harus bisa menjadikan nilai perusahaan hidup dalam aktivitas perusahaan.
 

posted by : Selly Wijayanti
session : Artikel mingguan 1
At : 20 Maret 2012, 20:51 WIB.